Sebagai seorang muslim tentulah kita harus mempercayai hanya pada yang satu yaitu Allah SWT. Karena Dia lah yang menciptakan seluruh bumi dan isinya ini dan jika bukan karena kehendakNya tentu kita tidak akan berada di dunia ini dan apa-apa yang terjadi di dunia ini tentulah atas kehendakNya pula. Lalu pantaskah kita menyembah dan mempercayai yang lain selain Dia yang maha agung???
Jika hari ini yaitu 11 November 2011 atau yang lebih booming dengan sebutan fenomena 11 11 11 dipercaya sebagai tanggal keberuntungan sehingga banyak pasangan yang melaksanakan pernikahan pada tanggal ini dan permintaan kelahiran secara sesar meningkat hingga 100%. Mengapa dianggap tanggal keberuntungan? Padahal jelas ini hanyalah sebuah tanggal yang kebetulan memang cantik dan kita sebagai seorang muslim tidak akan mempercayai hal seperti ini karena jelas kita tidak boleh percaya kepada sesuatu selain Allah SWT.
Jangan sampai kita menuhankan fenomena ini dan menganggap tanggal hoki sehingga kita melakukan sesuatu yang dipaksakan misalnya seperti kelahiran. Jika hal ini kita lakukan itu sama saja bahwa kita telah menyalahi Qada dan Qadar yang Tuhan gariskan untuk kita. Kita jangan sampai larut dalam fenomena ini sehingga turut meramaikan dengan hal-hal yang dapat merusak iman kita. Boleh saja mempercayai bahwa ini hanyalah tanggal yang kebetuln cantik dan seharusnya kita mengukir sesuatu yang baik di tanggal ini seperti memperbanyak amal kita kepada Allah SWT. Ingatlah bahwa Kiamat sudah dekat....(ga mungkin kan makin jauh... heheee...) Be your Self !! kita sesama muslim kan bersaudara jadi tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan.
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 November 2011
Senin, 07 November 2011
Istikharah Cinta
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi(pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah:216)
Dari ayat di atas jelas Allah menerangkan kepada kiita bahwa kita tidak boleh terlalu membenci sesuatu karena mungkin suatu saat nanti itu lah yang terbaik bagi mu dan begitupun sebaliknya. Mengapa demikian ..?? karena hanya Allah lah yang mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Saat saya membaca buku yang berjudul “Istikharah Cinta” karya M. Shodiq Mustika, dkk , saya mendapat banyak pelajaran dari buku tersebut. karena buku itu membahas bagaimana mendapatkan jodoh yang ideal, sehingga banyak dipaparkan kisah-kisah tentang pasangan-pasangan yang mencoba membangun rumah tangga dan berlandaskan cinta yang kuat dan rasa yakin bahwa pasangannya adalah memang yang terbaik. Tapi siapa kira bahwa pasangan yang dikira paling tepat ternyata justru tidak memberikan kebahagiaan semasa berumah tangga. Hal ini dikarenakan saat memutuskan menikah pasangan tidak melakukan istikharah cinta yang artinya tidak meminta petunjuk kepada Allah apakah ia memang yang terbaik. Untuk itu sudah semestinya dalam segala hal kita harus menyerahkan persoalan kepada Allah walaupun hati kita terlihat yakin, karena sungguh hanya Allah lah yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya. Apa lagi jika itu menyangkut jodoh.
Dari ayat di atas jelas Allah menerangkan kepada kiita bahwa kita tidak boleh terlalu membenci sesuatu karena mungkin suatu saat nanti itu lah yang terbaik bagi mu dan begitupun sebaliknya. Mengapa demikian ..?? karena hanya Allah lah yang mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Saat saya membaca buku yang berjudul “Istikharah Cinta” karya M. Shodiq Mustika, dkk , saya mendapat banyak pelajaran dari buku tersebut. karena buku itu membahas bagaimana mendapatkan jodoh yang ideal, sehingga banyak dipaparkan kisah-kisah tentang pasangan-pasangan yang mencoba membangun rumah tangga dan berlandaskan cinta yang kuat dan rasa yakin bahwa pasangannya adalah memang yang terbaik. Tapi siapa kira bahwa pasangan yang dikira paling tepat ternyata justru tidak memberikan kebahagiaan semasa berumah tangga. Hal ini dikarenakan saat memutuskan menikah pasangan tidak melakukan istikharah cinta yang artinya tidak meminta petunjuk kepada Allah apakah ia memang yang terbaik. Untuk itu sudah semestinya dalam segala hal kita harus menyerahkan persoalan kepada Allah walaupun hati kita terlihat yakin, karena sungguh hanya Allah lah yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya. Apa lagi jika itu menyangkut jodoh.
Jumat, 21 Oktober 2011
Bait-bait syair Sa'di
Jangan anggap sahabat
Dia yg mengetuk pintu
saat makmur mendekapmu
dia angkuhkan diri
dan menyebut dirinya sebagai saudara angkatmu
Aku yakin, dia adalah orang
yang mengambil keuntungan
dari tangan orang lain
Saat dia
berada dalam ruang kacau
Dan dalam keadaan miskin
Dia yg mengetuk pintu
saat makmur mendekapmu
dia angkuhkan diri
dan menyebut dirinya sebagai saudara angkatmu
Aku yakin, dia adalah orang
yang mengambil keuntungan
dari tangan orang lain
Saat dia
berada dalam ruang kacau
Dan dalam keadaan miskin
Senin, 02 Mei 2011
Menikah Tapi Tidak Bisa Masak Nasi
Pernikahan bagi seorang muslimah adalah suatu hal yang sakral dan begitu bahagia rasanya bila ada seorang lelaki yang meminang. “Akhirnya ada juga yang memilih saya,” begitulah biasanya gurauan dan nasihat yang diselingi canda membuat sang muslimah mukanya merah dan merasa malu. Ya malu-malu senang, atau biasa dikatakan tersipu-sipu malu.
Hal yang harus dipersiapkan oleh para muslimah menjelang nikah biasanya adalah persiapan lahir. Kalau yang satu ini kebanyakan para sanak saudara dan orang tua yang menyuruh para muslimah untuk memikirkan hal ini, yaitu dengan menyuruh luluran, bersih-bersih diri bahkan tidak jarang dicampur adukkan dengan kepercayaan sang orang tua misalnya siraman dan lain-lain. Ada beberapa muslimah yang mengikuti tapi ada juga yang tidak mengikuti. Namun akhirnya terjadilah kesepakatan acara pernikahan yang menggetarkan dengan memikirkan soal undangan, siapa yang akan diundang, tempat diadakan acara dan juga sedikit rebut- ribut kecil yang ujung-ujungnya adalah soal biaya. Dan semua itu membuat sang muslimah selama beberapa bulan atau beberapa minggu menjelang pernikahan sibuk dengan hal-hal yang merupakan bagian daripada rutinitas pernikahan yang hanya sehari saja.
Terkadang saya heran juga melihat persiapan yang dilakukan berbulan-bulan bahkan disertai dengan rapat ini itu yang sebetulnya hanya untuk menyiapkan sebuah acara yang dilakukan hanya beberapa jam saja dengan biaya yang lumayan banyak yaitu sampai jutaan lah kalau mau dihitung. Semua pihak juga mempersiapkan hari tersebut agar rapi dan tidak kacau, sementara itu biasanya kawan pengajian, sang murobiyah atau ustadzah membekali sang muslimah dengan petuah-petuah bagaimana manjadi istri yang baik, solehah, taat, enak bila dipandangnya serta akhlak akal lainnya dalam berumah tangga. Namun ada satu hal yang nyaris dilupakan para orang tua dan para murobiyah dalam melepas sang muslimah untuk menikah, hal yang cukup lumayan penting dan mengganggu bila tidak dapat dilaksanakan yaitu memasak nasi.
Berapa banyak cerita mengenai muslimah yang baru menikah namun ketika masak nasi menggunakan rice cooker, lupa ditekan tombol cook-nya sehingga ketika waktu makan malam tiba, nasi masih menjadi beras yang hangat dan sang suami bila sabar maka akan diam saja, namun bila tidak sabar akan membuat suasana di malam hari menjadi tidak nyaman dan tak khayal pertengkaran kecil kerap terjadi. Selain itu pemborosan juga namanya bila sang muslimah yang tidak pandai memasak karena harus menghabiskan uangnya untuk mencoba-coba berbagai masakan, namun akhirnya mungkin lauk ada yang terbuang atau terdiamkan diatas meja dalam waktu lama karena keasinan yang kalau dibuang saying tapi kalau dimakan, masya Allah asinnya bikin semangat makan hilang sehari semalam. Akibatnya, karena panik seringkali sang muslimah yang sudah menjadi istri harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli makanan dari warung sebelah rumah.
Sudah selayaknya begitu seorang muslimah akil baligh, pelajaran pertama selain akhlak dan adab-adab sebagai muslimah dari segi berpakaian, ibadah, mandi janabaha dan lain-lain, maka diwajibkan untuk turun ke dapur, bukan hanya membantu, kalau perlu tugas memasak nasi, membuat lauk dan lain-lain diserahkan pada anak gadis kita, bukan diserahkan kepada pembantu sementara anak kita tinggal duduk makan dengan tenangnya (kalau bahasa jakartanya duduk nge’jogrok..) dalam proses belajar masak.
Bila anak kita berbuat kesalahan biarlah, yang penting ada pembelajaran sebelum anak gadis kita masuk pada jenjang pernikahan. Saya melihat budaya ini kurang di masyarakat Indonesia, apalagi di perkotaan, yang ada adalah makanan fast food ala Mc Donald dan budaya membeli makanan untuk lauk siang dan malam hari.
source : eramuslim.com
Hal yang harus dipersiapkan oleh para muslimah menjelang nikah biasanya adalah persiapan lahir. Kalau yang satu ini kebanyakan para sanak saudara dan orang tua yang menyuruh para muslimah untuk memikirkan hal ini, yaitu dengan menyuruh luluran, bersih-bersih diri bahkan tidak jarang dicampur adukkan dengan kepercayaan sang orang tua misalnya siraman dan lain-lain. Ada beberapa muslimah yang mengikuti tapi ada juga yang tidak mengikuti. Namun akhirnya terjadilah kesepakatan acara pernikahan yang menggetarkan dengan memikirkan soal undangan, siapa yang akan diundang, tempat diadakan acara dan juga sedikit rebut- ribut kecil yang ujung-ujungnya adalah soal biaya. Dan semua itu membuat sang muslimah selama beberapa bulan atau beberapa minggu menjelang pernikahan sibuk dengan hal-hal yang merupakan bagian daripada rutinitas pernikahan yang hanya sehari saja.
Terkadang saya heran juga melihat persiapan yang dilakukan berbulan-bulan bahkan disertai dengan rapat ini itu yang sebetulnya hanya untuk menyiapkan sebuah acara yang dilakukan hanya beberapa jam saja dengan biaya yang lumayan banyak yaitu sampai jutaan lah kalau mau dihitung. Semua pihak juga mempersiapkan hari tersebut agar rapi dan tidak kacau, sementara itu biasanya kawan pengajian, sang murobiyah atau ustadzah membekali sang muslimah dengan petuah-petuah bagaimana manjadi istri yang baik, solehah, taat, enak bila dipandangnya serta akhlak akal lainnya dalam berumah tangga. Namun ada satu hal yang nyaris dilupakan para orang tua dan para murobiyah dalam melepas sang muslimah untuk menikah, hal yang cukup lumayan penting dan mengganggu bila tidak dapat dilaksanakan yaitu memasak nasi.
Berapa banyak cerita mengenai muslimah yang baru menikah namun ketika masak nasi menggunakan rice cooker, lupa ditekan tombol cook-nya sehingga ketika waktu makan malam tiba, nasi masih menjadi beras yang hangat dan sang suami bila sabar maka akan diam saja, namun bila tidak sabar akan membuat suasana di malam hari menjadi tidak nyaman dan tak khayal pertengkaran kecil kerap terjadi. Selain itu pemborosan juga namanya bila sang muslimah yang tidak pandai memasak karena harus menghabiskan uangnya untuk mencoba-coba berbagai masakan, namun akhirnya mungkin lauk ada yang terbuang atau terdiamkan diatas meja dalam waktu lama karena keasinan yang kalau dibuang saying tapi kalau dimakan, masya Allah asinnya bikin semangat makan hilang sehari semalam. Akibatnya, karena panik seringkali sang muslimah yang sudah menjadi istri harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli makanan dari warung sebelah rumah.
Sudah selayaknya begitu seorang muslimah akil baligh, pelajaran pertama selain akhlak dan adab-adab sebagai muslimah dari segi berpakaian, ibadah, mandi janabaha dan lain-lain, maka diwajibkan untuk turun ke dapur, bukan hanya membantu, kalau perlu tugas memasak nasi, membuat lauk dan lain-lain diserahkan pada anak gadis kita, bukan diserahkan kepada pembantu sementara anak kita tinggal duduk makan dengan tenangnya (kalau bahasa jakartanya duduk nge’jogrok..) dalam proses belajar masak.
Bila anak kita berbuat kesalahan biarlah, yang penting ada pembelajaran sebelum anak gadis kita masuk pada jenjang pernikahan. Saya melihat budaya ini kurang di masyarakat Indonesia, apalagi di perkotaan, yang ada adalah makanan fast food ala Mc Donald dan budaya membeli makanan untuk lauk siang dan malam hari.
source : eramuslim.com
Senin, 14 Maret 2011
Man Shabara Zhafiira
Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampong dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar
Di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi
Dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tidak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan
(Terjemahan syair Sayyid Ahmad Hasyimi)
Dikutip dari novel ‘Ranah 3 Warna’ karya A.Fuadi
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampong dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar
Di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi
Dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tidak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan
(Terjemahan syair Sayyid Ahmad Hasyimi)
Dikutip dari novel ‘Ranah 3 Warna’ karya A.Fuadi
Senin, 28 Februari 2011
Kata-kata penyejuk jiwa untuk para penuntut ilmu
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam Syafii)
Dikutip dari novel ‘Negeri Menara’
Karya A.Fuadi
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam Syafii)
Dikutip dari novel ‘Negeri Menara’
Karya A.Fuadi
Langganan:
Postingan (Atom)


